03 April 2015

Psikososial Erik Erikson dan Teorinya

Sebelum menjelajah lebih jauh tentang teori kepribadian dalam perkembangan manusia milik Erik Erikson yang biasa akrab dipanggil Erikson ini, ada baiknya kita mengenal dulu biografi tokoh yang menelurkan teori dalam ilmu psikologi yang disebut Psikososial ini.

 

Erik Erikson dilahirkan di Jerman pada tanggal 15 Juni 1902. Ayahnya adalah seorang kebangsaan Denmark yang tidak dikenal namanya dan tidak mengakui Erik sebagai anaknya. Dia meninggalkan Erik kala masih dalam kandungan. Ibunya, Karla Abrhamsen, adalah wanita Yahudi yang membesarkannya sampai usia 3 tahun. Dia kemudian menikah dengan Dr. Theodore Homberger, lalu pindah ke Karlsruhe, Jerman Selatan.

 

Pencarian identitas menjadi fokus perhatian terbesar Erik dalam kehidupan dan teorinya. Selama masa anak-anak hingga masa awal dewasa, dia adalah Erik Homberger. Kedua orangtuanya pun menyembunyikan detil-detil kelahirannya. Namun, dia tumbuh menjadi anak jangkung, dengan rambut pirang, bermata biru dan Yahudi. Di sekolah asrama, teman-temannya mengganggap dia keturunan Nordik, di sekolah dasar, dia menjadi Yahudi.

 

Setelah lulus sekolah menengah, Erik memutuskan untuk menjadi seniman. Karena tidak mengambil kuliah seni, dia memilih untuk keliling Eropa mengunjungi berbagai museum dan hidup seperti gelandangan. Dia menjalani hidup secara bebas tanpa beban, sampai jelas ‘apa yag harus dikerjakannya’.

 

Pada usia 25 tahun, temannya Peter Blos-seorang seniman yang kemudian jadi psikoanalisis- menyarankannya agar mendaftar jadi guru di sekolah percobaan untuk anak-anak Amerika yang dikelola oleh Dorothy Burlingham, teman Anna Freud. Di samping mengajar seni, Erik mendapat sertifikan dari Motessori Education dan Vienna Psychoanalityc Society. Bisa dikatakan, Erik jadi seorang psikoanalisis karena Anna Freud.

 

Beberapa waktu kemudian, dia bertemu Joan Serson, seorang guru tari dari Kanada dan menikahinya. Mereka dikaruniai tiga orang anak, salah satunya kemudian menjadi seorang sosiolog terkenal.

 

Ketika Nazi berkuasa, mereka sekeluarga menyingkir ke Copenhagen. Lalu pindah ke Denmark, dan akhirnya ke Boston, Amerika. Erik diterima mengajar di Harvard Medical School dan membuka praktik psikoanalisis anak-anak di rumahnya.

 

Di masa ini dia bertemu dengan psikolog seperti Henry Murray dan Kurt Lewin serta antropolog terkenal seperti Ruth Benedict, Margaret Mead, dan Gregory Beteson. Kedekatan dengan mereka ini mempengaruhi Erik dalam mengembangkan teorinya.

 

Dia kemudian mengajar di Universitas Yale, University of California di Berkeley. DI masa inilah dia melakukan studi-studinya tentang kehidupan modern dalam suku Lakota dan Yurok. Studi-studi inilah yang kemudian mengangkat nama Erik.

 

Setelah menjadi warga negara Amerika, secara resmi dia mengganti namanya menjadi Erik Erikson. Tidak ada yang tahu mengapa dia memilih nama ini.

 

Tahun 1950, dia menulis Childhood and Society yang memuat kesimpulan penelitiannya di tengah penduduk asli Amerika, analisis tentang Maxim Gorky dan Adolph Hitler, diskusi tentang “Kepribadian Amerika”, dan beberapa ringkasan teori Freudian. Tema-tema ini –pengaruh kebudayaan terhadap kepribadian dan analisisnya terhadap tokoh-tokoh sejarah– tetap muncul dalam karya-karyanya yang lain, salah satunya adalah Gandhi’s Truth, yang memenangkan Pulitzer Award dan National Book Award.

 

Di tahun yang sama, sewaktu merebak “teror” Senator Joseph McCarthy, Erikson meninggalkan Berkeley karena profesor-profesor di sana menyuruh dia menandatangani “dukungan” terhadap Senator McCarthy.

 

Dia menghabiskan waktu bekerja dan mengajar di sebuah klinik di Massachussets selama 10 tahun, dan 10 tahun kemudian kembali ke Harvard. Walaupun telah pensiun pada tahun 1970, dia tetap menulis dan melakukan penelitian bersama istrinya. Erik Erikson meninggal pada tahun 1994.

 

[Dikutip dari buku Personality Theories: An Introduction oleh Dr. C. George Boeree dari Psychology Department Shippensburg University pada tahun 1997 via http://www.psikologizone.com/biografi-singkat-erik-erikson/065113513 diakses pada pukul 00.20 WIB tanggal 3 April 2015]

 

Selanjutnya mengenai teori psikososial akan saya bahas dan saya jelaskan ditulisan saya di bawah ini disertai: konflik dan krisis Psikososial, figur signifikan dan kemungkinan bila gagal. Namun saya tidak akan memaparkan secara lengkap dari tiap tahap perkembangan yang berjumlah 8 itu karena saat menulis ini sesuai umur saya saat ini.

 

Perlu diketahui bahwa saya lahir pada tanggal 14 Februari 1995 atau berumur 20 tahun.

 

Masa Infant (0-1 Tahun)

Ketika saya masih bayi yang baru lahir, saya hanya dekat dengan ibu saya, karena kata memang saya anak pertama dan tidak memerlukan orang lain untuk membantu mengasuh. Mungkin hanya bapak saya yang membantu pada saat ibu saya perlu untuk mengerjakan hal lain. Sehingga efek yang ditimbulkan terhadap saya adalah saya cenderung tidak percaya kepada orang lain diluar orang tua saya. Dan respon saya saat tak percaya itu berupa tangisan disertai rasa takut.

Krisis Psikososial                    : Trust Vs Mistrust (Kepercayaan Vs Kecurigaan)

Figur signifikan                       : Orang tua (terutama ibu)

Kemungkinan bila gagal        : Bayi akan menarik diri (withdrawal) karena harapan kecil yang dimiliki tak disertai dengan hilangnya penderitaan seperti lapar, haus, nyeri dan ketidaknyamanan lain yang seharusnya menjadi kesenangan karena harapannya (hope) terpenuhi oleh figur lekatnya.

 

Masa Balita atau Toddler (1-3 Tahun)

Saya pada masa ini masih mengandalkan orang tua untuk merawat diri saya sepenuhnya. Lagi-lagi karena saya anak pertama jadi sikap orang tua dalam member tanggung jawab belum terlalu ditekankan. Namun, untuk beberapa hal yang mudah seperti makan tanpa disuapi, disapih dan pergi ke kamar mandi sendiri sudah mulai diperintah agar terbiasa sendiri. Diri saya sendiri belum cukup baik dalam menjalankan perintah itu karena saya pikir saya ragu bisa melakukan itu dengan benar.

Krisis Psikososial                    : Autonomy Vs Shame & Doubt (Otonomi Vs Malu & Ragu)

Figur signifikan                       : Orang tua

Kemungkinan bila gagal    : Jika seorang individu hanya dapat mengembangkan kemampuan otonominya secara terbatas maka ia akan mengalami kesulitan pada tahap perkembangan selanjutnya, ia menjadi seorang individu yang tidak memiliki inisiatif. Virtue pada tahap ini ialah kemauan (will) adalah individu yg sulit utk menentukan kemauannya sehingga mereka yang gagal dalam mencapai virtue ini akan menjadi individu yang tidak memiliki tujuan dan tidak memiliki rasa percaya terhadap diri sendiri.

 

Masa Prasekolah atau Preschooler (3-6 tahun)

Masa ini merupakan masa dimana saya sudah mulai berani untuk berinteraksi dengan orang lain di luar orang tua saya. Mulai mengenal pertemanan dengan teman sebaya untuk diajak bermain. Dalam posisi ini, saya lebih memilih untuk banyak berdiam diri di rumah dengan bermain mainan sendiri daripada bermain sepanjang waktu dengan teman sebaya. Karena saya saat itu merasa bahwa saya tak boleh menghabiskan banyak waktu di luar rumah karena akan mengkhawatirkan orang tua saya. Dan ketika menghadapi anggota keluarga lain cukup hanya diam di depan mereka.

Krisis Psikososial                    : Inisiatif vs Perasaan Berdosa (Initiative vs Guilt)

Figur signifikan                       : Keluarga Besar

Kemungkinan bila gagal        : Jika seorang individu memiliki inisiatif yang berlebihan maka yang terjadi ialah chaos (huru-hara) serta kurangnya prinsip moral. Sementara itu jika guilt berlebihan maka individu tsb akan menjadi moralistik yang kompulsif atau terlalu terkekang. Virtue dari tahap ini adalah tujuan (purpose). Pada tahap ini individu mulai dapat memberikan label mana yg 'benar' dn mana yg 'salah', sehingga jika seseorang gagal dalam tahap ini ia mungkin akan kesulitan dalam menentukan tujuan.

 

Masa Sekolah atau Grade-Schooler (6-12 tahun)

Ketika saya mulai masuk usia sekolah dasar, saya diberi kebebasan oleh orang tua saya untuk berproses dengan lingkungan sekitar. Masa itu saya sekolah dengan biasa tidak diketati orang tua untuk belajar terus-menerus dan bebas bermain yang tidak berbahaya. Pihak sekolahan juga tidak terlalu menekan siswanya untuk belajar mata pelajaran secara intens, sehingga memang proses kognisi individu berkembang dengan internalisasi diri sendiri.

Krisis Psikososial                    : Ketekunan vs Inferiorita (Industry vs Inveriority)

Figur signifikan                       : tetangga, sekolah (neighborhood, school)

Kemungkinan jika gagal      : virtue pada tahap ini adalah kemampuan (competency) yang bisa didapatkan dari latihan kecakapan gerak dan kecerdasan untuk menyelesaikn tugas. Jika inferiorita seseorang lebih besar maka individu tersebut menjadi mudah menyerah dan regresi ke tahap perkembangan seblumnya. Individu tersebut akan menjadi sibuk dengan fantasi genital anak-anak dan odipus, serta menghabiskn waktunya untuk bermain yang tidak produktif. Regresi yg dimaksud disini disebut dgn inersia (inertia) atau kemalasan yg berlebihan. Inersia adalah kebalikan dari kompetensi dan hal tersebut yg menjadi sumber patologi di usia sekolah.

 

Masa Remaja atau Adolescence (12-20 tahun)

Menjalani masa ini merupakan masa pengenalan pada kehidupan dunia sebenarnya pada diri saya. Saya mulai memilih teman yang sesuai dengan karakter saya. Saya mulai menanyakan esensi dan prinsip diri yang harus dipegang dalam hidup sehingga hidup ini tak kosong. Saya juga mengikuti banyak kegiatan mandiri dengan orang lain dan berani mengutarakan pendapat.

Krisis Psikososial                    : Identitas Vs Kekacauan Identitas (Identity Vs Role Confusion)

Figur signifikan                       : Kelompok sebaya, panutan (Role Model)

Kemungkinan bila gagal        : Kekuatan dasar yang muncul dari jika seorang individu mengalami krisis identitas pada tahap adolesen adalah dalam bentuk kesetiaan (fidelity), yaitu setia dalam beberapa pandangan ideologi atau visi masa depan. Individu yang telah mencapai masa remajas tidak lagi membutuhkan bimbingan orang tua, mereka akan memiliki keyakinan bahwa bidang lain seperti agama, politik, dan ideologi sosial akan memberi standar tingkah laku yang konsisten. Virtue kesetiaan ini memiliki beberapa sisi patologis, antara lain penolakan (repudiation) yaitu ketidakmampuan menggabungkan berbagai gambaran diri dan nilai-nilai ke dalam identitas, menjadi bentuk malu-malu (diffidence), maupun penyimpangan (deviance).

 

Berikut tabel ulasan lengkap mengenai teori Psikososial Erikson.


 

Sumber :

Alwisol. (2014). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.


Kirim Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :