06 January 2015

Memori Manusia

Kemampuan yang dimiliki manusia dalam mengingat dan menyimpan sesuatu kejadian atau pengalaman hidup karena adanya memori dalam otak kita. Dimana dalam memori tersebut tidaka akan pernah penuh selama hidup kita. Sebagaimana di ibaratkan dalam sebuah komputer yang memiliki RAM (Randoom Acces Memory) yaitu sebuah penyimpanan sementara. Begitu pula dengan otak manusia yang memiliki memori jangka pendek dan jangka panjang. Bagaimanakah kita mengenali dan memahami memori kita? ingatan atau memori telah menjadi salah satu pokok bahasan dalam psikologi kognitif. Psikologi kognitif adalah pendekatan psikologi yang memusatkan perhatian pada cara kita merasakan, mengolah, menyimpan dan merespon informasi. Walaupun memori manusia juga terbagi dalam beberapa jenis, pada dasarnya memiliki hubungan dan keterkaitan dalam proses mengingat. Karena masing-masing memori manusia memiliki sistem mekanisme kerja yang unik. Hal ini terjadi dengan sendirinya siring dimana manusia melakukan proses mengingat dan menyimpan informasi dalam kehidupan sehari-harinya. Jenis-jenis memori menurut Richard Atkinson dan Richard Shiffrin (dalam Matlin, 1998), ingatan disimpan dalam tiga sistem penyimpanan informasi, yaitu memori sensori (sensory memory), memori jangka pendek (short term memory), dan memori jangka panjang (long term memory). Dalam mengenal bagian-bagian memori dan fungsinya dalah sebagai berikut :

1. Memori Jangka Pendek

Ingatan jangka pendek atau sering disebut denganshort-term memory atau working memory adalah suatu proses penyimpanan memori sementara, artinya informasi yang disimpan hanya dipertahankan selama informasi tersebut masih dibutuhkan. Ingatan jangka pendek adalah tempat kita menyimpan ingatan yang baru saja kita pikirkan. Ingatan yang masuk dalam memori sensoris diteruskan kepada ingatan jangka pendek. Ingatan jangka pendek berlangsung sedikit lebih lama dari memori sensoris, selama anda menaruh perhatian pada sesuatu, anda dapat mengingatnya dalam ingatan jangka pendek. Memori ini memiliki 7 kapasitas memori (+ dua) dan berdurasi sekitar 15-30 detik. Dengan kata lain, seorang dewasa mampu mengingat 5-9 kapasitas memori selama kurang lebih 15 hingga 30 detik. Ingatan jangka pendek terdiri dari tiga unit terpisah; putaran fonologi (phonological loop), gambaran penglihatan-ruang (visuo-spatial sketchpad), dan pelaksana pusat (central executive). Dalam, memori jangka pendek ini tidak sekedar sebagai penyipan ingatan sementara tetapi juga sebgaiu tempat untuk berfikir secara aktif cepat dan langsung dalam mengambil sebuah keputusan.

 

2. Memori Sensoris

Memori sensoris yaitu berhubungan erat dengan memori penyimpanan sementara yang daiatur oleh panca indra. Setiap pancaindera memiliki satu macam memori sensoris. Memori Sensoris adalah informasi sensoris yang masih tersisa sesaat setelah stimulus diambil. Jadi, di dalam diri manusia ada beberapa macam sensori-motorik, yaitu sensori-motorik visual (penglihatan), sensori-motorik audio (pendengaran), dan sebaganya. Dalam memori ini pesan di samapaikan oleh kinerja dari sebuah indara kita, misalnya kita dalam mengenali sebuah benda yang memiliki tekstur kasar atau sebaliknya, peroses peraba itu di sampaikan ke sensori otak dan akan memperoses informasi dari memori kita.

 

3. Memori Panjang

 

Dalam memori jangka panjang  ini merupakan pusat penyimpanan ingatan –ingtan serta informasi-informasi yang kita simpan. Disinilah tempat memori manusia utama yang tidak akan pernah penuh selama hidup kita. Proses masuknya informasi ke dalam ingatan jangka panjang tetap melalui tahap memori sensoris. Pada tahap ini informasi dari luar yang diterima oleh indera diubah menjadi impuls-impuls neural sesuai dengan masing-masing fungsi indera, kemudian impuls-impuls neural yang mengandung informasi ini diteruskan ke ingatan jangka pendek. Setelah informasi masuk ke dalam ingatan jangka pendek, di seleksi sedemikian rupa mana yang dianggap penting dan tidak, kemudian diteruskan ke ingatan jangka panjang.Hal ini menunjukan betapa luar biasanya kemampuan yang dimiliki manusia salah satunya adalah sintem memori kita.

Seseorang mengalami lupa jika informasi yang masuk tidak mendapat perlakuan sebagaimana mestinya. Lupa dapat merupakan proses yang masih normal (fisiologis), tapi dapat pula menjadi proses yang abnormal (patologis). Ada beberapa macam bentuk lupa, yakni mudah lupa (forgetfulness), amnesia, dan demensia. Mudah lupa terjadi bilamana informasi yang diterima berhasil melalui proses normal dan akhirnya tersimpan di dalam memori jangka panjang. Sayangnya sukar diambil atau diingat kembali saat dibutuhkan. Mudah lupa masih tergolong normal. Meskipun begitu tidak jarang hal ini merupakan tanda-tanda keadaan abnormal. Mudah lupa dapat terkait dengan penambahan usia yang sering dihubungkan dengan inefisiensi proses memori, seperti proses berpikir menjadi lamban, kurang menggunakan strategi memori yang baik, kesulitan memusatkan perhatian dan mengabaikan distraktor, membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari sesuatu yang baru, dan lebih banyak dibutuhkan isyarat untuk mengingat kembali informasi yang telah tersimpan. Mudah lupa akan semakin berat jika menyerang manula yang biasa disebut sebagai age-associated memory impairment . Pada amnesia, informasi hanya sampai di memori jangka pendek. Dengan kata lain, terjadi kegagalan atau kesulitan belajar yang berarti sudah bersifat patologis. Namun, perhatian terhadap informasi yang masuk, mengingat kembali informasi yang sudah lama, fungsi kognisi, bahasa, dan kepribadian masih berjalan dengan normal. Hanya proses penerusan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang yang gagal sehingga informasi baru tersebut tidak dapat diingat kembali, sedangkan pada demensia gangguan yang paling berat. Informasi sama sekali tidak dapat masuk dalam proses memori, bisa disebabkan oleh berbagai kelainan di otak seperti: gangguan vaskuler (stroke) dan degeneratif (sindrom Alzheimer).

Otak manusia berbeda dengan komputer, meski analoginya memang mirip. Sama seperti komputer di meja, otak dipersenjatai dengan dua memori dasar yaitu memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Memori jangka pendek, bisa dianalogikan dengan RAM (Random-Access Memory). Informasi yang diterima oleh panca indera menunggu dengan singkat di memori kerja ini, semacam play group mental yang kemudian menguapkannya dengan segera. Informasi baru tersimpan setelah terjadi proses perubahan kimia dan listrik pada sel-sel saraf atau neuron. Memori jangka pendek memungkinkan kita untuk membuat hitungan sederhana di kepala atau mengingat nomor telepon cukup lama, meski begitu selesai menelepon. mungkin sudah lupa. Maka, sama seperti RAM, ia juga bisa menganalisa dan menyimpan informasi tanpa membuat rekaman yang abadi. Lain halnya dengan memori jangka panjang bertindak sebagai hard drive, secara fisik menyimpan pengalaman yang telah lewat di daerah otak yang disebut kulit luar otak (cerebral cortex). Cortex merupakan rumah bagi belukar 100 miliar neuron yang tampangnya mirip tumbuhan merambat. Komunikasi antar-sel terjadi lewat pancaran impuls-impuls kimia dan listrik. Setiap kita merasakan sesuatu - pandangan, suara, ide - impuls unik dari sebagian sel-sel saraf tersebut langsung aktif. Ada yang lalu tidak kembali ke bentuk asalnya, karena mereka memperkuat koneksi satu dengan lainnya.

Menurut Dr. Barry Gordon, kepala klinik gangguan memori di Sekolah Kedokteran Johns Hopkins, AS menyatakan bahwa memori adalah berupa pola koneksi antar neuron. Bila suatu memori baru diperoleh, pengkodeannya bisa melibatkan ribuan neuron yang tersebar di seluruh cortex. Tapi jika informasi baru itu tidak digunakan, pola koneksi yang baru terbentuk itu akan segera pupus kembali. Sebaliknya, jika kita berulang-ulang mengingatnya lagi, pola koneksi itu akan semakin kokoh terbentuk dalam jaringan otak. Meski demikian, keputusan untuk menyimpan atau membuang informasi biasanya dilakukan tanpa sadar, karena berada di bawah kendali hippocampus, Sehubungan dengan hal tersebut ada dua pertanyaan yang bisa diajukan:

  • Apakah informasi tersebut memiliki arti emosional bagi yang bersangkutan? Nama mantan pacar akan lebih tertanam dalam memori kita daripada nama seorang menteri tertentu dalam kabinet yang usianya hanya 2 bulan. Minat khusus, atau berkadar sensasional.
  • Apakah informasi yang masuk berhubungan dengan hal yang sudah kita ketahui? Otak memang selalu sibuk berusaha membuat asosiasi. Hal-hal yang dianggap tidak akan berguna tidak akan disimpan di dalam memori.

Dengan sistem filter ini, manusia sanggup menguasai dan melakukan analisis terhadap informasi yang diperoleh. Pada beberapa kasus istimewa, neurolog kadang menemukan orang-orang dengan memori super. Data yang betapa ruwet pun dapat mereka ingat. Namun, pada umumnya daya pikir abstrak orang-orang macam ini sangat lemah. Ibarat kenal angka, mereka tak kenal makna.

Beberapa gangguan lain, juga bisa menyebabkan orang jadi pelupa. Tekanan darah tinggi, kurang tidur atau kebanyakan minum pil tidur, kebanyakan minuman keras, disfungsi kelenjar tiroid. Gangguan psikologis macam depresi, kecemasan, atau sekadar kurang stimulasi, juga bisa jadi penghalang terciptanya memori baru.

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti rumah sakit Ninewells di Dundee memperoleh kesimpulan, bahwa pengobatan (khususnya obat tidur), gangguan kelenjar tiroid, dan kekurangan vitamin juga bisa memicu timbulnya penyakit lupa. Hanya saja, hal itu biasanya terjadi setelah usia 55 tahun. Ancaman lainnya adalah lingkungan. Menurut Profesor James Reason dari Universitas Manchester mengatakan, timah hitam yang terdapat dalam bensin dan sumber-sumber lain dapat merusak inteligensia dan daya ingat anak-anak. ”Memori seorang anak yang dalam masa pertumbuhan bisa rusak karena banyak menghirup zat beracun,”

Para ahli sebenarnya sudah lama mengetahui bahwa ”lingkungan yang diperkaya” dapat meningkatkan kinerja otak. Stimulasi, yang muncul dari lingkungan, mampu membuat otak bekerja secara lebih efisien dan meningkatkan koordinasi antarsel. Kalau mengacu kepada kesamaan struktur otak tikus dengan otak manusia, maka semestinya hal itu bisa terjadi pada manusia juga.

Otak manusia memang mempunyai sel-sel cadangan, seperti yang diujarkan ilmuwan dari Institut Riset Stanford bahwa kita hanya menggunakan 10% otak kita. Selebihnya istirahat di tempat. Cadangan tersebut dipakai untuk mengantisipasi rangsangan tertentu dengan mengembangkan daya komputasi melalui peningkatan jumlah sel yang tersedia. Akan tetapi jika seseorang hidup dalam lingkungan yang rendah stimulasi dan tak pernah menggunakan sel-sel cadangan, maka sel-sel itu akan mati. Selain penelitian soal stimulasi, para ahli bidang farmasi pun berusaha menciptakan obat yang mampu meningkatkan kinerja otak. Salah satunya adalah Cortex, perusahaan yang didirikan oleh tiga ahli ilmu syaraf dari Universitas Kalifornia di Irvine. Mereka mengklaim telah menemukan ampakine yang dapat menyegarkan saraf yang lelah.

Dalam hubungannya dengan masalah kelupaan, para ahli mengajukan tiga teori mengenai lupa (forgetting) yaitu: teori kerusakan (decay theory), teori interferensi atau terhalang (interference theory), dan teori ketergantungan pada isyarat (cue-dependent forgetting theory). Masing-masing teori ini akan diuraikan secara singkat.

  1. Teori kerusakan (decay theory). Teori ini beranggapan bahwa lupa dapat terjadi karena informasi yang pernah disimpan di dalam ingatan tidak pernah atau jarang digunakan, sehingga lama-kelamaan akhirnya mengalami kerusakan (hilang dengan sendirinya). Jadi, seseorang lupa menyebut nama kawan lama ketika berjumpa selama beberapa tahun tidak berkomunikasi, maka terjadinya lupa disebabkan karena orang itu jarang menyebutkan nama temannya itu.
  2. Teori Penghalang (interference theory). Teori interferensi mendasarkan pada pandangan psikologi asosiasi. Suatu asosiasi dibentuk antara stimulus tertentu dengan respon tertentu pula. Asosiasi atau hubungan ini tetap berlangsung di dalam ingatan, sepanjang tidak ada informasi lain yang mengganggu atau menghalangi. Interferensi oleh informasi lain di dalam ingatan dibedakan menjadi dua macam: retroactive inhibition dan proactive inhibition. Retroactive inhibition terjadi apabila materi atau informasi yang baru menghalangi seseorang untuk mengingat informasi yang lama. Sebaliknya, disebut proactive inhibition apabila materi atau informasi yang lama menghalangi seseorang untuk mengingat informasi yang baru.
  3. Teori ketergantungan pada isyarat (cue-dependent forgetting theory). Teori ini berasal dari pendekatan pemrosesan informasi. Teori ini berpandangan bahwa pada prinsipnya lupa terjadi bukan disebabkan oleh kerusakan informasi di dalam ingatan atau terhalang oleh informasi lain, tetapi disebabkan oleh terlalu jauh letak atau lemah isyarat sesuatu yang ingin diingat kembali oleh seseorang. Isyarat-isyarat yang kabur mengenai suatu informasi yang pernah disimpan di dalam ingatan ini dapat terjadi tidak hanya pada informasi lama tetapi juga pada informasi baru. Misalnya, karena seseorang sudah pindah ke tempat kerja yang baru, maka ia mengalami kesulitan mengingat nomor telepon di kantor yang lama, sementara nomor telepon di kantor yang baru juga belum diingat betul.

 

Sumber

http://edukasi.kompasiana.com/2014/10/29/apa-itu-memori-manusia--683502.html

 Aziz, R. (2013). Memahami Fenomena Lupa dari Perpektif Psikologi Kognitif. Malang: http://psikologi.uin-malang.ac.id/publication.

Sternberg, R. J. (2009). Cognitive Psychology, Fifth Edition. California: Wadsworth.

Weiten, W. (2013). Psychology Themes and Variations. California: Wadsworth.


Kirim Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :