06 January 2015

Mengenali Bahasa Indonesia Sebagai Identitas Bangsa

Bahasa merupakan cara komunikasi yang paling sering dilakukan. Menurut Sternberg (2009) dalam bukunya Cognitive Psychology mendefinisikan Bahasa sebagai maksud-maksud yang terorganisir dari kata-kata yang dikombinasikan untuk tujuan berkomunikasi. Selanjutnya pemikiran Quinlan & Dyson (2008) memaparkan bahwa Bahasa adalah sistem simbolik yang terdiri dari konstituen (simbol dasar) dan konstituen ini diatur oleh aturan kombinasi. Disini bisa diasumsikan bahwa Bahasa mempunyai struktur atau aturan kombinasi dan simbol dasar yang disepakati sehingga berimplikasi menghasilkan arti tertentu yang dipahami oleh banyak orang. Dan hasil inilah yang kemudian menjadi korelasi komunikasi dengan menggunakan Bahasa yang dipahami bersama dan disepakati, baik dari kombinasi simbol, aturan kombinasi dan arti yang terkandung di dalamnya.

Terdapat banyak sekali macam Bahasa yang ada di dunia ini, cukup menengok Bahasa yang ada di Indonesia sajalah, terdapat berbagai macam Bahasa yang disebabkan banyaknya suku dan rasa yang ada di Indonesia. Dalam perkembangannya hingga kini, Bahasa tak hanya sebagai wujud persatuan suatu kelompok, namun juga dipelajari oleh kelompok lain demi memperoleh keuntungan tertentu, terlebih dalam memperoleh informasi. Hal ini disinyalir sebagai variabel penting adanya penguasaan Bahasa asing. Penguasaan Bahasa asing menjadi sangat tren ketika gejolak global menuntut masyarakat tau dan mengerti akan apa yang terjadi kini. Maka dari itu, penguasaan Bahasa asing menjadi sangat mutlak. Di sisi lain penggunaan Bahasa asing juga menjadi momok akan hilangnya identitas kelompok tersebut. Sebagai contoh, di Jepang, masyarakat sangat diwajibkan menggunakan Bahasa local atau Bahasa induk, dan penggunaan Bahasa asing menjadi pelanggaran hukum bagi warga negaranya. Hal ini berimbas dengan semakin tingginya kepercayaan diri Negara Jepang dengan penguasaan Bahasa yang dimiliki. Mereka bangga akan identitas budayanya. Namun kaitannya dengan hal itu, apakah ada perbedaan karakter antara individu yang hanya menguasai satu Bahasa dengan individu yang menguasai lebih dari satu Bahasa atau bisa disebut bilingual/Multilanguage?

Globalisasi telah menggeser posisi Bahasa Indonesia dalam jajaran Bahasa-bahasa asing yang dianggap oleh masyarakat lebih mampu mengangkat harkat dan martabat. Globalisasi menuntut semua lapisan masyarakat untuk terlibat dalam proses globalisasi salah satunya dengan penguasaan Bahasa internasional, yaiut Bahasa Inggris. Akan tetapi, ternyata realitas menunjukkan bahwa tidak hanya Bahasa inggris saja yang saat ini menjadi penghambat peningkatan posisi Bahasa Indonesia di negeri sendiri. Sebagai contoh adalah Bahasa Korea dan Jepang yang saat ini lebih diminati oleh para kalangan remaja. Lembega-lembaga kursus Bahasa-bahasa asing tersebut juga telah banyak, tidak hanya di kota-kota besar saja melainkan I berbagai pelosok daerah. Hal seperti itu merupakan akibat dari proses globalisasi. Derasnya arus teknologi informasi yang tidak disertai dengan proses penyaringan menyebabkan masyarakat dengan mudah terpengaruh. Padahal pada jaman dahulu Indonesia terkenal dengan masyarakat yang memiliki local genius yaitu kemampuan untuk memilih budaya asing mana yang sesuai dengan kebudayaan Indonesia untuk kemudian diterima tanpa mengubah kebudayaan Indonesia yang asli sehingga melahirkan akulturasi kebudayaan. Penggunaan Bahasa Inggris juga telah diatur penggunaannya dalam batas-batas tertentu, seperti yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Mikihiro Moriyama, dosen Bahasa Indonesia Nanzan University di Nagoya Jepang. Prof. Moriyama mengemukakan pendapatnya dalam diskusi yang bertajuk “Bahasa Indonesia Pasca SOeharto” yang diselenggarakan Newseum Indonesia di Jakarta, menurutnya, semasa pemerintahan orde baru di Indonesia seperti terdapat pembagian yaitu hanya Bahasa Indonesiayang resmi digunakan untuk Bahasa di runga publik, sedangkan Bahasa asing hanya Bahasa Inggris.

Tetapi dalam satu sisi, tidak semua bersifat negative, Bahasa Indonesia memiliki perannya sendiri dalam memperkenalkan budaya Indonesia. Bahasa Indonesia telah mampu menghilangkan batas ketidakselarasan antara suku dan etnis dalam masyarakat , dimana ketidakselarasan itu seringkali menimbulkan kecemburuan social dan perpecahan antara warga Negara Indonesia. Kecemburuan social dan disintegrasi yang timbul salah satunya diakibatkan oleh Bahasa daerah yang mana Bahasa antara daerah satu dengan yang lainnya berbeda sehingga kesulitan dalam berkomunikasi. Namun setelah lahirnya Bahasa Indonesia sebagai Bahasa nasional, kecemburuan social dan disintegrasi antar suku dan etnis di Indonesai bisa diatasi. Sabagaimana yang diungkapkan oleh pernyataan Gumperz dan Gumperz (1985) yang menyatakan bahwa konflik yang terjadi pada akhir-akhir ini disebabkan oleh konflik etnik, kelas, atau agama.

Kedudukan Bahasa Indonesia dalam era globalisasi tidak sepenuhnya tergeser, kaitannya dengan Bahasa Indonesia yang semakin tidak diminati oleh masyarakat Indonesia, bukan berarti Bahasa Indonesia lenyap begitu saja, dan hanya digunakan dalam sebuah media dan forum resmi. Kekhawatiran inilah yang membuat masyarakat Indonesia itu sendiri meragukan penggunaan Bahasa Indonesia yang baku, baik dan benar menurut kaidah Bahasa Indonesia. Hal semacam ini tidaklah membuat posisi Bahasa Indonesia menurun di kancah dunia dan tidak pula membuat Bahasa Indonesia memiliki nilai minus untuk digunakan dalam pergaulan dunia, seperti yang diungkapkan oleh Jhon Naisbittt dalam bukunya Global Paradox memperlihatkan hal ini justru bersifat global sehubungan dengan masalah ini. “semakin kita menjadi universal, tindakan kita semakin bersifat kesukuan”, “berfikir local, bersifat global”. Ketika Bahasa inggris menjadi Bahasa kedua bagi semua orang, Bahasa pertama, Bahasa ibu mereka lebih penting dan dipertahankan dengan lebih giat.

Kesimpulannya adalah perlunya kesadaran diri dalam memahami pentingnya Bahasa ibu. Karena ini sangat berpengaruh pada eksintensi Bahasa tersebut terutama Bahasa Indonesia.

 

 

Sumber

Dyson, P. Q. (2008). Cognitive Psychology. Harlow: PEarson Education Limited.

Hapsari, K. S. (n.d.). Wajib Budaya sebagai Ketahanan Sosial Budaya; Studi Kasus Bahasa Indonesia. Prosiding The 4th International Conference on Indonesian Studies: "Unity, Diversity and Future", 470-480.

Sternberg, R. J. (2009). Cognitive Psychology, Fifth Edition. California: Wadsworth.


Kirim Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :